Penghargaan terbaik Untuk Ehud Olmert, daa. (dan antek-anteknya)

 

Seribu tiga ratus lebih warga palestina menemui syahidnya, ribuan lainnya harus menahan sakit akibat luka-luka yang ditimbulkan dari serangan brutal tentara dari negera haram israel. Layar televisi menayangkan berulang-ulang, bagaimana anak-anak kecil dibopong dengan berbalut kain kafan, mereka meninggal dengan cara yang sangat zhalim. Yang lainnya, anak-anak remaja, perempuan, tak terkecuali manula, merintih kesakitan terkena pecahan roket atau fosfor putih yang menyasar bagian tubuhnya. Mereka yang berhasil menyelamatkan diri, biasanya hanya meratap di tengah-tengah puing bangunan yang telah rata dengan tanah, ditemani trauma (terutama bagi anak-anak balita) yang entah kapan bisa disembuhkan. Inilah wajah muram kemanusiaan. Inilah wajah muram tangisan palestina, karenanya dunia juga menangis…menangisi matinya hati nurani.
Adalah genderuwo, sundel bolong, siluman, drakula, (atau sebutan apapun yang lebih layak dialamatkan padanya) bernama Ehud Olmert, perdana menteri negara haram israel, yang menikmati kejadian itu semua. Bukannya menyesal atau sedikit berempati, orang gila ini malah memberikan pernyataan ”penyerangan akan terus dilakukan!!”. si jijay Olmert tidak sendirian, teman-temannya di kabinet yang tak kalah sintingnya, seperti Livni, Ehud Barak, dll, ikut bertanggung jawab atas kejahatan kemanusiaan terbesar ini. Mereka (dengan berbagai latar belakang politis dan kebencian rasialnya) satu kesatuan hati untuk ”menyayat-nyayat” hati palestina, walaupun dalam banyak hal mereka sebenarnya juga ”gontok-gontokan” secara politis antar sesamanya. Kaum zionis najis ini, tak akan pernah puas sampai mereka melihat palestina rata dengan tanah, dan tanahnya ”bersih” dari penduduk aslinya rakyat palestina.
Resolusi hanya jadi basa-basi, PBB bagaikan Persatuan Banci-Banci yang serba takut mengambil langkah kongkret. Amerika, setali tiga uang dengan negara haram israel. Si muka sepatu, Bush, malah bikin pernyataan kalau para Pejuang Hamaslah yang harus disalahkan atas semua yang terjadi. Maklum, otaknya memang terbalik, jadi wajar kalo ia berpikir terbalik, sama sekali tidak menyalahkan si brutal israel. Negara-negara arab (para pemimpinnya), bagaikan kaum yang terserang penyakit waham (cinta dunia), ibaratnya orang yang berbadan besar tapi takut sama kecoak busuk bernama israel. Sekaliber Mesir, ikut menanggung dosa karena telah menahan puluhan truk pengangkut bantuan kemanusiaan.
Melihat berbagai macam kejadian ini, saya jadi sangat kesal. Saya berpikir bagaimana cara mati terbaik bagi Olmert dan berandalannya. Berbagai hal terlintas dalam pikiran, dengan sedikit berimajinasi..mudah-mudahan ini menjadi dukungan moril bagi rakyat palestina, dan kemanusiaan umumnya. Walaupun memang, hanya setitik debu, tapi lebih baik berbuat dengan apa yang kita bisa daripada tidak sama sekali.
Opsi pertama, Olmert dkk, digantung di tengah hutan amazon. Biarkan jasadnya dicabik-cabik oleh buaya, dimakan anakonda, atau dilalap oleh semut-semut sakti amazon. Sisa lainnya, sebaiknya dibuat undangan terbuka untuk seluruh binatang predator atau karnifora amazon untuk datang dan menyaksikan eksekusi, kemudian setelahnya biarkan mereka berpesta, mencabik senti demi senti bagian tubuh si gendeng Olmert dkk. Tapi saya ragu dengan cara ini, saya khawatir jangankan bumi, bahkan binatang tersadis di amazonpun tak sudi perutnya dimasuki makanan haram yang terbuat dari Olmert dkk ini. Ada yang bisa melengkapi?
Opsi kedua, si biadab Olmert dkk, diikat di belakang kereta ekonomi jurusan Bandung-Jogjakarta, biarkan tubuh mereka terseret sejauh ratusan kilo meter. Dan satu lagi, tempatkan mereka tepat di bawah lubang wc kereta, biar sepanjang perjalanan mereka bisa menikmati berbagai sajian yang layak. Senang rasanya, bisa melihat Olmert dkk, tergeli-geli terseret kereta butut sepanjang bandung-jogja. Ia akan selalu bersapaan dengan batu-batu tajam dan bantalan baja rel kereta di sepanjang perjalanan. Ia juga akan digoncang dengan sejuta goncangan karenanya, itung-itung ikut merasakan bagaimana rasanya warga palestina yang malang setiap hari harus merasakan getaran dan goncangan bumi akibat roket-roket israhell.
Opsi ketiga, kaki kanan mereka diikat dengan kencang, dan ujung yang lain diikatkan ke mobil formula 1nya mika hakinen. Kemudian kaki kiri mereka juga diikat, ujung tali yang lainnya diikatkan pada motor keren Valentino rossi. Tangan kanannya juga diikat dengan kencang, dan ujung tali yang satunya diikatkan pada kuda australia yang tercepat didunia. Nah tangan kirinya juga diikat dengan kencang, dan sisi tali yang satunya diikatkan pada ujung teratas menara sutet, untuk yang satu ini tali yang digunakan berbahan besi, agar dapat menghantarkan listrik dengan baik. Terakhir, tiup peluit, pada saat yang bersamaan, mika hakinen, Valentino rossi dan kuda ostrali akan tancap gas sekencang-kencangnya secara bersamaan. Dan satu lagi, aliran listrik PLN dimaksimalkan, untuk mendapatkan hasil terbaik.
Sayang imajinasi saya terbatas, mungkin rekan-rekan bisa memikirkan opsi yang lebih layak untuk mengeksekusi Olmert dkk?.nah, ada lagi… bagaimana kalo si Olmert dkk kita kasih penghargaan?. Misalnya, manusia paling kejam di muka bumi. Kita juga bisa undang jaya suprana untuk memberikan rekor sebagai salah seorang pembantai manusia terbanyak yang pernah ada. Atau kita tetapkan olmert sebagai the most wanted to die in the world.

Leave a comment »

Satu Luka, diantara Dua Pesta

Untuk saudara-saudaraku di Palestina
Untuk Kemanusiaan, yang telah pudar ditelan  pesta
Ada suara sorak berseruak
Ada gelaran tabligh akbar di sebuah mesjid pusat kota
Ada juga iring-iringan parade beduk dan petasan
Aku dengar hari ini tahun baru Hijriyah
Di sudut majelis ta’lim yang lain,
Ibu-ibu ramai menyiapkan tumpeng…
Sebagai ungkapan syukur, masuki Hijriyah baru, katanya.

Tengah malam aku mendengar suara menggelegar
Langit malam itu, dipenuhi kembang api, yang tak hentinya menari
Di sudut kota sana, pesta-pesta digelar
Musik, Terompet, Tepuk tangan….
“Selamat tahun baru masehi”…bersahutan
Mari kita menyusun resolusi, katanya.

Kontras..Ironi!!
Di suatu tempat, bumi dimana lahir para Nabi Allah
Palestina…Gaza
Ada lautan darah, lautan tangis,
Bukan pesta, tapi sebuah gambaran bumi yang luluh lantah
Diterjang rudal berdaya hancur tingkat tinggi
Ada jeritan tangis, anak-anak kehilangan ibu dan ayahnya
Ada rasa sakit yang mendalam, ibu-ibu melihat jasad anak mereka dibalik reruntuhan
Ada lebih dari 1300 jasad syuhada, yang tergeletak..
Mereka membisikan sesuatu tentang kebiadaban sebuah bangsa: israhell

Dimana kemanusiaan itu?, dimana hak asasi yang diagung-agungkan itu?, dimana demokrasi yang adil itu?, dimana para pejuang persamaan hak itu?,, dimana para pejuang kebebasan hidup itu?….

(awal januari 2009)

Leave a comment »

Habis sariawan terbitlah bararusuh

Rasa jengkel bisa jadi ada untuk diri sendiri, betapa tidak, sariawanku yang hampir setiap bulan muncul, lumayan menyita rasa lelah tingkat tinggi karena perihnya yang nyut-nyutan en lumayan lama. Mau ngomong aja males, kalo lagi ketemu sama orang-orang jadi pendiam murni seribu bahasa, bahkan ditanya sama orang tua sendiri jadinya males jawab, bukan karena apa-apa, tapi kalo ngomong luka sariawan yang tepat berada di samping kanan sebelah bawah lidah ini tergesek-gesek dengan gigi geraham sebelah kanan, aw…Subhanallah, sakit nian sariawan ni.

Belum lagi kalo ngaji, yah walopun memang ga sering-sering banget tapi tetep aja sariawan ini sering jadi rasionalisasi buat ga ngaji, padahal kalo maksainmah sebenernya bisa, tapi ya tetep aja jadi ga semanget gitu. Waktu rasa sakit tingkat tinggi biasanya terjadi ketika bangun tidur, belum lagi sekarang kan bulan puasa, mulut kering pake tidur tambah belum sikat gigi lagi (arghgh), pas bangun…arghghgh, Subhanallah, nyeri pisan euy, peurih baraya.

Hari demi hari kulalui dengan sabar, detik demi detik bersama sariawan kulewati dengan penuh ketegaran..hiks..hiks, ikhtiar dengan penggunaan obatpun aku maksimalkan, dari mulai enkasari, albothil, obat cina untuk panas dalam, sanorin, sampe salep oles yang mahalnya minta ampun, walau Cuma 46.500 rupiah, tapi untuk ukuran obat sariawanmah, teungteuingeun euy harga sakitu teh. Alhamdulillah, obat terakhir yang mahal ini lumayan majur en cocok (ga salah emang, harga menentukan kualitas). Jika digunakan secara teratur dan berkala—sehari tiga kali–, salep yang nama lengkapnya kenalog ini perlahan tapi pasti mulai menyembuhkan luka sariawan kita (dengan Izin allah tentunya). Tapi beginilah seorang Irvan Rachmmawan, habis sariawan terbitlah bararusuh alias sariawan deui. Perlahan lahan, dari kecil mulai membesar dan semakin hari semakin menyakitkan, bikin komunikasi jadi nambah ga efektif (karena memang haroream ngomong, da nyeri ku sariawan), padahal cita-citaku ingin menjadi trainer pengembangan diri, yang kerja sehari-harinya bercuap-cuap memotivasi orang lain.

Suatu saat, aku berada di dalam sebuah mesjid, selepas sholat aku mengangkat kedua tangan ini, tanpa berteriak—karena Allah maha mendengar—dengan sangat dalam aku meminta, “ya Allah tolong sembuhkan sariawan hamba ya Allah…”,aku mengulang-ngulang doa tersebut sambil memejamkan mata dengan penuh pemaknaan, aku berupaya untuk menangis, mengenang sakitnya sariawan yang terjadi hampir terus-menerus, aku meminta kepada Allah dengan keinginan yang sangat kuat dan permintaan yang penuh paksaan seolah-olah akulah orang yang paling menderita di dunia..syukurlah, itu tak berlangsung lama, sekilas sebuah bayangan berkelebat—tapi bukan uka-uka, jangan berpikir mistis ya!!–, sebuah ingatan akan berbagai detail nikmat Allah yang ada dan terus bertambah pada diriku. Sebuah bayangan muncul di tengah-tengah do’aku, seolah menampar manusia lemah ini dari “kemabukannya” terhadap rasa menderita, bayangan yang mengatakan bahwa aku masih punya mata yang dengan sangat jelas bisa melihat semua hal yang ada dihadapanku, dan semua makhluk bumi yang diciptakan Allah, lengkap dengan sejuta keindahannya. Aku masih bisa membaca, melihat wajah-wajah orang yang kucintai, melihat ayat-ayat Allah baik yang Qauliyah maupun yang kauniyah, membaca tulisan-tulisan yang sarat makna, dan melihat tingkah laku keponakanku yang lucu-lucu. Aku masih punya telinga yang dengannya aku mendengar dengan normal, mendengar guru-guruku berbicara tentang alam dan jagat raya, kehidupan dan tantangan-tantangannya, teori komunikasi dan cara-cara cepat beresin skripsi. Aku juga bisa mendengar lantunan taujih rabbani khas dari shyaikh mishari rasyid elfasy juga al ghamidi, atau taushiyah-taushiyahnya aa gym. Dan lebih dari segalanya, aku masih bisa mendengar dengan sangat normal setiap lantunan, partitur, nada dan irama dari alam semesta yang ku pijak, meskipun memang tak mudah memetakannya dalam sebuah notasi.

Bayangan itu muncul bertubi-tubi, menjabarkan setiap nikmat yang diberikan Allah, aku masih punya tangan yang lengkap dan bisa menggenggam, setiap jari-jarinya masih bisa menghasilkan tulisan-tulisan sederhana ini dengan sangat lincahnya. Kakiku juga masih sempurna, dan bisa melangkah kemanapun aku mau untuk melangkahkannya, masih bisa menendang kalo lagi main bola, meskipun kuakui aku masih amatiran dalam menendang bola. Allah juga memberiku perasaan, hati atau apapun itu, yang dengannya aku merasakan kesenangan, kebahagiaan, kesedihan, kegembiraan, keyakinan, semangat, optimisme dan banyak lagi yang lainnya, yang bikin hidup sangat indah dan romantis, dengan segala tantangan-tantangannya.

Akhirnya, aku sadar, bahwa ternyata selama ini aku kurang bersyukur dengan apa yang Allah berikan. Jika ada selembar kertas putih kehidupanku, aku terlalu fokus kepada setitik tinta yang ada didalamnya, padalah masih banyak medan berwarna putih disekelilingnya yang bisa aku syukuri. Aku terlalu fokus pada sariawanku, padahal Allah memberiku mata, telinga, tangan, kaki, perasaan dan segala hal yang berfungsi secara normal, dan bisa memenuhi atau mengerjakan apa yang aku butuhkan. Dan aku lupa satuhal, yakni sebuah kenyataan bahwa bisa jadi “titik tinta” itu menjadi sebuah gambar yang indah, jika kita mau memaknainya. Bisa jadi sariawan yang sering Allah kirim padaku adalah salah satu dari Jutaan bentuk kasih sayangnya, agar dosa-dosaku yang banyak ini lambat laun mulai terhapus atau minimal berkurang.

Terima kasih ya Allah.

Comments (1) »

R.E.U.N.I

 

Hari jum’at, tanggal 23 Ramadhan 1429 Hijriyah, bertepatan dengan 23 september 2008, tepatnya pada mulai pukul 16.00 sampai dengan 00.50 dini hari, aku mengikuti acara reuni dan buka bersama, dalam acara tepang sono alumni smp negeri 22 bandung. Acara dimulai dengan kumpul-kumpul, makan-makan di bancakan, foto bareng di jonas, dan menikmati pemandangan malam kota Bandung, di ketinggian sekian ribu meter di atas permukaan air sumur, sambil menikmati segelas susu hangat..Subhanallah

 

…..Kembali dalam kesatuan, begitulah makna harfiah dari reuni. Bertemu dengan teman lama, saling melepas kangen atau bertukar nomer telfon, itulah suasana yang mewarnai pertemuan anak-anak manusia yang telah lama terpisah. Sejenak anak-anak manusia itu biasanya merenung mengingat masa lalu, mereka menerawang menuju jaman baheula untuk mengenang berbagai momen yang terjadi ketika dulu mereka bersama.

Ada momen-momen pikaserieun alias lucu, ada juga momen-momen menegangkan ketika harus berhadapan dengan pak guru yang galak gara-gara secara sporadis telah mengolok-olok dan membuat menangis salah satu teman perempuan yang terkenal cerewet. Ada juga momen-momen heroik, yang terjadi ketika harga diri seorang remaja smp dan eksistensi komunitasnya terancam oleh tirani orang lain. Di sini ada perkelahian—garelut.ed—saling membela satu sama lain, untuk satu tujuan yang—pada waktu itu—dianggap mulia, kepahlawanan.

Tapi memang harus diakui, masa smp adalah masa yang sulit untuk dihilangkan dari ingatan—untuk menghidari kata yang umum:sulit dilupakan.pen—berbagai macam kejadiannya seringkali membuat kita jadi berpikir, kenapa kita dulu sepolos itu ya?, walaupun memang sekarang juga masih polos.

Nah, pernahkah kita bertanya sebenarnya apa sih tujuan dari reuni?,mengapa harus ada reuni?,dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang merupakan pertanyaan mendasar dalam kehidupan kita yang fana ini?.memang tak berarti kita harus menurunkan visi misi dan strateginya atau program unggulan dari sebuah reuni, tapi minimal kita tahu alasan yang paling mendasar mengapa kita harus berkumpul, bertemu atau apapun itu dalam sebuah reuni?, karena adanya alasan yang kuat adalah identitas dari manusia yang berpikit(tafakur).

Untuk menemukan motif atau alasan yang paling kuat dan paling mendasar tentang mengapa kita harus reuni ada beberapa teori yang bisa kita pakai untuk membedahnya, yang pertama jelas teori dari abah Abraham Maslow, seorang psikolog yang konon menurut sumber sejarah yang tidak dapat dipertanggungjawabkan pernah tinggal dan menetap di cicadas. Kontan, keterangan sejarah ini ditentang habis-habisan oleh murid-murid Maslow, para psikolog kontemporer, termasuk penulis sendiri, dan beberapa orang lainnya yang masih berpikiran sehat.

Ok, kembali ke inti teori abah Maslow, beliau bilang bahwa manusia pada dasarnya mempunyai hierarki motif yang menjadi dasar baginya dalam melakukan sebuah tindakan, dan motif-motif itu merupakan kebutuhan-kebutuhan yang terpatakan dalam lima hierarki kebutuhan Maslow. Yang pertama adalah kebutuhan fisiologis, meliputi kebutuhan terhadap oksigen, air, makanan, dan berbagai unsur yang terkandung di dalamnya. Termasuk dalam kebutuhan ini adalah kebutuhan untuk tidur, bergerak, dan kebutuhan “biologis” lainnya. Kemudian, kebutuhan yang kedua, yang terletak pada hierarki yang lebih tinggi adalah kebutuhan akan rasa aman, jika kebutuhan fisiologis terpenuhi, barulah kebutuhan ini muncul. Berikutnya secara berurutan ada kebutuhan akan cinta dan rindu, kebutuhan harga diri dan yang terakhir adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Nah, karena menurut saya teori maslow ini sudah cukup lengkap, jadi untuk membedah motif atau alasan mendasar reuni mendingan pake satu teori ini aja ya. Soalnya juga, kalo kebanyakan cape nulis dan nganalisisnya, lo kate gua dosen apa?.terima kasih atas pengertiannya.

So, motif daripada keberadaan reuni itu bisa jadi macam-macam, dan tidak bisa diseragamkan (ujung-ujungnya innamal ‘amalu bin niyat), ada yang pengen reuni untuk memenuhi kebutuhan akan cinta dan rindunya (belonging needs), mencakup dalam hal ini adalah ketidak inginan terhadap kondisi kesepian, keinginan untuk memiliki hubungan yang hangat dengan teman, atau keinginan untuk menjadi bagian dari sebuah kelompok. Motif berikutnya, adalah kita reuni untuk memenuhi kebutuhan harga diri kita, kebutuhan ini meliputi keinginan kita untuk dihargai oleh teman kita, dengan segala prestis yang kita miliki, kuliah S1, punya kerja atau bisnis, punya istri, suami atau anak, atau hal-hal lain yang membuat kita bangga. Dan motif paling puncak adalah kebutuhan untuk aktualisasi diri, kita merepresentasikan diri kita dengan baju apa yang kita pakai, aksesoris apa yang menempel, atau kendaraan apa yang kita naiki—yang pasti bukan onta, karena di bandung emang kaga ada onta, kecuali di kebon binatang—semuanya adalah simbol yang ingin kita sampaikan kepada dunia :inilah AKU.

Sebagai penutup dari tulisan ini marilah sama-sama kita menundukan kepala dan hati-hati kita, untuk sebuah cita-cita dan tujuan bersama. Karena memang tema blog ini adalah ruang ma’rifat dimana semua tulisan yang ditulis dimaksudkan supaya kita dapat mengenal siapa kita, siapa Tuhan kita, siapa Nabi kita, apa Pedoman kita, en so on. Oleh karenanya, saya ingin menyampaikan bahwasannya dalam paradigma ruang ma’rifat reuni sebenarnya baik, asalkan niat awalnya baik yakni untuk menyambungkan tali silaturahmi yang telah lama terputus, kemudian isinya juga hal-hal yang baik, tidak mabok-mabokan, maen gapleh sambil pasang judi, saling menyakiti satu sama lain—baik lahir maupun batin—atau menghidangkan makanan-makanan yang tidak halal, semisal ayam curian dari tetangga, atau telor gelonggongan(???).dan yang paling penting tujuannya baik, yakni untuk mencapai ridha Allah SWT.subhanallah.

Insya Allah, jikalau kita melakukan segala sesuatu dalam bingkai ma’rifah, hidup kita akan tenang, segala upaya kita tidak akan sia-sia, karena semuanya terhitung sebagai sebuah pengabdian kepada sang pencipta, Allah Subhanahu wata’ala.

 

 

Leave a comment »

Ramadhan & Indonesian Dream

 

Menjelang akhir Ramadhan…banyak orang bergembira

Tapi sebagian lainnya justru bersedih…

Kita berada dimana?

 

            Ramadhan bulan Al-Qur’an, ramadhan bulan kepedulian, ramadhan bulan penuh rahmat, ramadhan bulan perubahan. Begitulah, banyak kata kebaikan yang disematkan dengan bulan ramadhan karena memang ramadhan itu sendiri adalah bulan dimana kebaikan tersiar hampir secara masal, dilakukan oleh muslim dan muslimah, di penjuru kota dan desa, di sudut mesjid dan mushola. Bagaimana tidak, ikhwan dan akhwat, da’i dan ustadz meyakini bahwa setiap amalan sunnah yang dilakukan pahalanya sebagaimana amalan wajib, dan setiap amalan wajib yang dilakukan pahalanya akan dilipatgandakan.

            Banyak hal yang bisa kita pelajari dari fenomena-fenomena di bulan Ramadhan, di saat setiap orang tertidur dengan sangat pulasnya, di bulan ini kita disunnahkan untuk bangun dan makan sahur, banyak keberkahan didalamnya. Sebuah keluarga yang tampak individualis dengan kegiatan bapak di kantornya, atau ibu di kelompok arisannya, dan anak-anak di kelompok permainannya, pada waktu sahur dan berbuka mereka melaksanakan momen khusus, yang dibungkus dalam sebuah kebersamaan yang tidak didapat di bulan yang lainnya. Menjelang maghrib ibu sibuk menyediakan makanan untuk berbuka, anak-anak tak sabar menunggu..dan bapak, siap-siap untuk shalat berjamaah. Selepas maghrib mereka sekeluarga duduk melingkar di meja makan, mengucap doa, menyantap makanan, dan bersyukur atas karunia Allah.

            Ramadhan bulan kepedulian, konon di bulan ini Rasul sang utusan melakukan sedekah layaknya angin, cepat, sering…melesat tanpa diketahui. Dalam terminologi islam, sedekah berarti bukan mengurangi harta tapi justru menyuburkan rizki. Ramadhan adalah momen kebaikan masal dimana banyak orang bersemangat untuk melakukan kebaikan. Kita lihat di sudut-sudut kampus para mahasiswa sibuk membagikan takjil gratis menjelang berbuka, atau mereka mengumpulkan anak yatim di sebuah aula untuk melakukan buka bersama, dan lebih mengesankan lagi mereka rela bangun tengah malam untuk melakukan sebuah aktivitas mulia, bersama-sama membagikan makan sahur pada orang-orang di jalanan lewat program sahur on the roadnya. Belum lagi para dermawan yang tak henti-hentinya merogoh kocek mereka dan mendonasikannya pada yayasan amal, atau pengelola zakat. Memang, Ramadhan adalah bulan ketika empati kita digugah, di siang hari kita dididik untuk ikut merasakan lapar sebagaimana orang-orang yang sehari-harinya memang sulit walau untuk menemukan sesuap nasi, dengan begini kepedulian kita akan semakin tergugah karena kita benar-benar ikut merasakannya.

            Ramadhan juga bulan kesholehan, semangat untuk melakukan ibadah jadi bertambah, orang yang jarang ke mesjid jadi sering ke mesjid, orang yang jarang ngaji jadi belajar atau bahkan sering mengaji. Bahkan orang ”sibuk” rela menyisihkan waktunya untuk mendengar untaian nasihat dari ustadz dalam ceramah atau kultum ramadhan. Para musisi kita tak kalah solehnya, ramai-ramai mereka terbitkan album religi, yang syairnya penuh dengan pujian terhadap Tuhan, dan nilai-nilai spiritual lainnya. Tak ketinggalan para punggawa sinetron, artis, sutradara, jalan cerita dan isi dialog tak lepas dari simbol-simbol keislaman atau minimal semangat spiritual anak manusia, walaupun memang disana-sini tak ada bedanya dengan sinetron konvensional, yang rajin mengeskploitasi cinta yang melankolik, dan romantika yang berputar di sekelilingnya.

            Banyak lagi yang luar biasa dari Ramadhan, yang jika kita ingin mengetahuinya secara tuntas diperlukan sebuah kajian fenomenologis terhadap pemaknaan umat muslim terhadap bulan ramadhan. Tapi walaupun hanya kita lihat dipermukaan—apa yang tampak—Ramadhan telah membawa spirit baru, spirit kesolehan, spirit orientasi akhirat, spirit kepedulian, spirit kejujuran dan berbagai spirit yang bertumpu nilai-nilai langit. Subhanallah.

            Jika menlihat keluarbiasaan ramadhan ini, ada sebuah harapan terpancang. Akankah nilai-nilai ini berlanjut di selebas bulan berikutnya?, akankah kepedulian ini terus terperihara, sampai tidak ada lagi yang berhak menjadi mustahik di negeri ini?, akankah kejujuran itu, semangat ibadah itu dan optimisme itu bertahan selama sebelas bulan ke depan, melalui berbagai tantangannya, dan bertahan dari setiap goncangannya?, akankah negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini memahat semangat Ramadhan di setiap aktivitas yang mereka jalani?. Kalau semua jawabannya YA, rasanya kebangkitan negeri ini tinggal menunggu waktu saja. Jika semua jawaban adalah YA, maka mimpi-mimpi negeri ini adalah sebuah keniscayaan yang akan terjadi. Jika semua jawaban adalah YA, maka tak perlu lagi kita sering-sering membaca pembukaan UUD 1945, dimana tujuan negara ini terpahat, karena memang itu semua telah menjadi realita yang tak terbantahkan.

 

Ya Allah berkahi negeri kami..

Jadikan negeri ini negeri yang baldatun toyyibatun warobbun ghofur..

 

Bangkitlah negeriku..harapan itu masih ada

                       

Leave a comment »

sebuah perjalanan

hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti..

mmhh..memang, bait lagu tadi mengingatkan kita pada ruang-ruang waktu yang telah kita lalui dalam kehidupan ini. rasanya baru kemarin, kita termehek-mehek menangis gara-gara ditinggal ibu dalam sebuah lingkungan yang baru kita kenal, saat pertama kali menjejakkan kaki di taman kanak-kanak. sepertinya baru kemarin, kita berbangga menggunakan seragam putih-merah, mengikuti upacara bendera dengan gagah. dan memang, perasaan belum lama ketika kita sibuk bergenk ria, merencanakan berbagaimacam kejahilan, dari m,ulai nempel permen karet di bangku, lempar-lempar kapur papan tulis, sampai kena tempeleng gara-gara membuat seorang teman kita menangis akibat berbagai keusilan dan gangguan yang kita lakukan. seragam putih biru, adalah awal pencarian jati diri itu, meskipun semuanya dilalui dengan sangat polos.

Masa putih abu-abu juga kita lalui dengan sangat cepat, dengan segudang romantika yang tidak romantisnya, yang penuh keculunan dan ketergesaan dalam mengisi hidup. kita berlari juga, melaluinya hingga saat ini (kita??). yah, begitulah hidup, ada perjuangan dalam setiap massanya, ketika sd kita memperjuangkan perhatian, ketika smp, kita memperjuangkan rasa ingin tahu, dan di sma kita lebih banyak memperjuangkan identitas. begitu seterusnya, ketika perjuangan yang satu selesai akan datang tantangan lain yang juga harus kita perjuangkan.

pertanyaan besarnya adalah, apa sebenarnya esensi perjuangan kita?, apa pula yang harus kita perjuangkan?, dan jikalau ada, kenapa kita harus memperjuangkannyaa?

itulah pertanyaan yang harus terjawab, sebelum kita menyesali segala sesuatu yang kita perjuangkan…

Leave a comment »

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Comments (1) »